Kue Putu Ayu: Cita Rasa Tradisional yang Memikat

Kue Putu Ayu adalah jajanan tradisional Indonesia yang terkenal karena rasa manis dan gurihnya, serta tampilannya yang menarik dengan warna hijau pandan dan taburan kelapa parut. Kue ini populer di berbagai daerah, termasuk Bali, dan menjadi bagian penting dari jajanan pasar tradisional. Popularitas kue ini tetap bertahan di tengah berbagai jajanan modern dan mencerminkan kecintaan masyarakat Bali pada tradisi kuliner lokal.

Mar 24, 2025 - 06:00
Mar 23, 2025 - 07:33
Kue Putu Ayu: Cita Rasa Tradisional yang Memikat
Kue Putu Ayu (Sumber: Koleksi Pribadi)

Kue Putu Ayu adalah salah satu kue tradisional Indonesia yang digemari masyarakat karena rasa dan teksturnya yang unik. Kue ini memiliki tampilan menarik dengan warna hijau dari pandan dan taburan kelapa parut putih di atasnya. Kue Putu Ayu tidak hanya populer di Bali tetapi juga di berbagai wilayah di Indonesia, termasuk Jawa dan Sumatra. Di Bali, kue ini dijual di banyak pasar tradisional dan kerap disajikan sebagai camilan sehari-hari atau sajian istimewa untuk tamu. Kue Putu Ayu memiliki sejarah panjang dan berakar dari tradisi pembuatan kue basah di Indonesia. Kue basah ini sudah ada sejak zaman dahulu dan dibuat dengan bahan-bahan sederhana yang mudah ditemukan di pasar lokal. 

Kue Putu Ayu Bersama dengan Jajanan Pasar Lainnya (Sumber: Koleksi Pribadi)

Di Bali, kue Putu Ayu telah menjadi bagian dari jajanan pasar tradisional yang populer. Masyarakat Bali menyukai kue ini karena rasanya yang manis dan gurih, serta tampilannya yang cantik. Kue ini sering dihidangkan sebagai teman minum teh atau kopi, dan menjadi pilihan camilan yang digemari semua kalangan. Dengan tampilannya yang khas dan cita rasanya yang memikat, kue Putu Ayu tetap diminati hingga saat ini di tengah gempuran berbagai jenis camilan modern.

Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat kue Putu Ayu sangat sederhana dan mudah didapatkan, karena biasanya tersedia di pasar-pasar tradisional di Bali. Bahan utama kue ini adalah tepung terigu, yang memberikan tekstur lembut pada adonan kue. Tepung terigu yang digunakan umumnya adalah tepung terigu berprotein sedang agar kue memiliki tekstur yang pas. Untuk memberikan rasa manis yang khas, gula pasir ditambahkan sesuai selera, meskipun kue Putu Ayu biasanya memiliki manis yang lembut dan tidak berlebihan.

Daun Pandan sebagai Bahan Utama Kue Putu Ayu (Sumber: Koleksi Pribadi)

Selain itu, telur menjadi bahan penting yang tidak hanya memberikan kelembutan tetapi juga membantu adonan mengembang saat dikukus. Kocokan telur dan gula yang mengembang dengan sempurna adalah kunci dalam menciptakan tekstur kue yang empuk dan lembut. Kemudian, ada santan, yang memberikan cita rasa gurih alami serta kelembutan pada tekstur kue. Santan ini bisa diperoleh dari kelapa segar yang diperas, namun santan instan juga bisa digunakan sebagai alternatif. Keharuman dan warna hijau alami pada kue Putu Ayu dihasilkan dari daun pandan, yang biasanya dihaluskan dan diperas untuk mengambil sarinya. Pewarna alami dari pandan ini tidak hanya menambah keindahan tampilan kue tetapi juga memberikan aroma segar yang menggugah selera.

Satu lagi bahan penting adalah kelapa parut kasar yang ditaburkan di atas kue. Taburan kelapa parut ini memberikan rasa gurih yang kontras dengan rasa manis adonan kue, menciptakan perpaduan rasa yang harmonis. Kelapa parut biasanya diberi sedikit garam agar rasa gurihnya semakin kuat dan menyatu dengan rasa manis kue. Kombinasi semua bahan ini membuat kue Putu Ayu memiliki tekstur yang lembut, rasa yang lezat, dan aroma pandan yang harum, menjadikannya camilan yang sempurna untuk dinikmati kapan saja.

Proses pembuatan kue Putu Ayu cukup mudah dan tidak membutuhkan peralatan khusus. Langkah pertama adalah mempersiapkan kelapa parut yang akan digunakan sebagai lapisan bawah kue. Kelapa parut ini dicampur dengan sedikit garam untuk menambah rasa gurih, lalu dikukus sebentar untuk menjaga kelembutannya. Setelah dikukus, kelapa parut tersebut diletakkan di dasar cetakan sebagai lapisan pertama dari kue Putu Ayu. Langkah berikutnya adalah mengocok adonan. Di dalam wadah besar, telur dan gula pasir dikocok dengan mixer hingga mengembang dan berubah menjadi putih pucat. Proses ini sangat penting untuk menghasilkan tekstur kue yang lembut dan mengembang. Setelah adonan mengembang sempurna, tambahkan santan dan tepung terigu sedikit demi sedikit, lalu aduk hingga merata.

Setelah itu, tambahkan ekstrak pandan atau pasta pandan ke dalam adonan untuk memberikan warna hijau alami yang khas pada kue Putu Ayu. Aduk kembali hingga warna hijau tercampur merata. Selanjutnya, adonan yang sudah jadi dituangkan ke dalam cetakan yang sudah berisi kelapa parut di bagian bawahnya. Isi cetakan hingga hampir penuh agar kue memiliki bentuk yang sempurna. Setelah semua adonan dituangkan, cetakan-cetakan tersebut dimasukkan ke dalam panci kukusan yang sudah dipanaskan sebelumnya. Kukus kue selama sekitar 10-15 menit hingga matang. Kue yang matang akan memiliki tekstur lembut dan warna hijau cerah, dengan taburan kelapa parut putih di bagian atasnya. Setelah selesai dikukus, keluarkan kue dari cetakan dan sajikan. Kue Putu Ayu yang ideal memiliki perpaduan rasa manis dan gurih dengan tampilan yang cantik dan menggugah selera.

Kue Putu Ayu khas Bali memiliki beberapa keunikan yang membedakannya dari kue serupa di daerah lain. Di Bali, kue ini sering kali dibuat dalam ukuran yang lebih kecil, sehingga lebih praktis dan mudah disantap dalam sekali gigitan. Selain itu, kue Putu Ayu di Bali umumnya memiliki rasa yang sedikit berbeda karena penggunaan bahan-bahan yang masih segar dan alami, terutama kelapa parut yang baru dikupas dan diparut, serta daun pandan segar sebagai pewarna.

Kue Putu Ayu di Bali juga sering disajikan dengan sentuhan estetika yang unik, yaitu menggunakan daun pisang sebagai alasnya atau disajikan di atas wadah anyaman bambu. Hal ini memberikan tampilan yang lebih alami dan menarik, serta menambah kesan tradisional pada penyajiannya. Selain mempercantik tampilan, penggunaan daun pisang juga diyakini membantu menjaga aroma kue agar tetap segar dan alami.

Selain tampilannya yang khas, kue Putu Ayu di Bali sering kali memiliki variasi rasa yang menarik. Beberapa pembuat kue mulai berinovasi dengan menambahkan rasa seperti cokelat, keju, dan stroberi, tanpa menghilangkan karakteristik dasar dari kue Putu Ayu. Inovasi ini menjadikan kue Putu Ayu semakin menarik bagi berbagai kalangan, terutama generasi muda yang mungkin lebih menyukai cita rasa yang beragam.

Kue Putu Ayu yang Tetap Bertahan di Jaman Modern (Sumber: Koleksi Pribadi)

Kue Putu Ayu tetap populer di Bali meskipun banyak jajanan modern bermunculan. Kue ini tetap menjadi pilihan utama bagi masyarakat Bali, baik sebagai camilan sehari-hari maupun sebagai hidangan untuk tamu. Di pasar-pasar tradisional di Bali, kue Putu Ayu mudah ditemukan, dan harganya yang terjangkau membuatnya menjadi camilan yang digemari banyak orang.

Di tengah gempuran makanan modern, keberadaan kue Putu Ayu menunjukkan bahwa masyarakat Bali masih sangat menghargai cita rasa dan tradisi kuliner yang diwariskan dari generasi ke generasi. Selain itu, kue Putu Ayu juga diminati oleh para wisatawan yang ingin mencoba makanan khas Bali. Dengan teksturnya yang lembut dan rasanya yang manis gurih, kue ini selalu sukses memikat hati mereka yang mencobanya untuk pertama kali.

Kue Putu Ayu adalah salah satu contoh makanan tradisional yang tetap eksis dan relevan di tengah perkembangan zaman. Dengan bahan-bahan sederhana, kue ini menawarkan cita rasa lezat yang disukai oleh berbagai kalangan. Keunikan kue Putu Ayu khas Bali terletak pada tekstur lembut, aroma pandan yang khas, dan taburan kelapa parut yang gurih. Bukan hanya sekadar camilan, kue Putu Ayu juga menjadi bagian penting dari identitas kuliner Bali yang patut dilestarikan.

Kue Putu Ayu bukan hanya sekadar makanan, tetapi juga cerminan dari kebudayaan dan tradisi masyarakat Bali yang menghargai warisan kuliner. Setiap gigitan dari kue ini memberikan rasa autentik yang mengingatkan kita akan keindahan dan keunikan budaya lokal Indonesia. Kelezatan kue Putu Ayu menjadikannya tidak hanya sebagai jajanan pasar, tetapi juga sebagai simbol kekayaan kuliner Bali yang akan selalu dicintai sepanjang masa.