Mpu Tantular: Kisah Hidup Seorang Penyair, Cendekiawan, dan Ahli Strategi Perang

Bercerita tentang perjalanan hidup seorang penyair, cendekiawan, dan ahli strategi perang paling tersohor pada masanya, hingga salah satu karyanya menjadi semboyan nasional bangsa Indonesia. Mpu Tantular adalah seorang pujangga agung dari Kerajaan Majapahit yang hidup pada abad ke-14, terkenal akan kedalaman pemikirannya yang menjelajahi makna persatuan dalam perbedaan.

Feb 7, 2026 - 11:26
Nov 20, 2024 - 18:51
Mpu Tantular: Kisah Hidup Seorang Penyair, Cendekiawan, dan Ahli Strategi Perang
Mpu Tantular berjalan diatas gunung (sumber: koleksi pribadi)

Pada sekitar tahun 1331, lahirlah seorang Mpu yang bernama Tantular di tanah Jawa Timur. Yang di mana, saat itu Kerajaan Majapahit mencapai puncak kegemilangannya di bawah kekuasaan Prabu Hayam Wuruk. Dari masa kecilnya, Mpu Tantular tumbuh dan belajar di lingkungan kerajaan yang begitu kaya dengan nilai-nilai luhur dan tradisi spiritual. Kala itu, langit Majapahit dipenuhi semangat kebesaran, dan beliau adalah seorang yang haus akan pengetahuan berusaha memahami kehidupan dengan mendalami filsafat, sastra, dan spiritualitas. Sebagai seorang penganut Buddha, Mpu Tantular menghargai ajaran agama dengan segenap hati, namun Mpu Tantular juga menyaksikan kebesaran agama lain yang berkembang di sekitarnya, terutama Hindu-Siwa yang dianut banyak penduduk Majapahit. Rasa hormat dan ketertarikannya akan keberagaman ini membuat Mpu Tantular berpikir jauh: "apakah perbedaan ini harus memisahkan kita, atau justru menyatukan kita?" Mpu Tantular melihat perbedaan sebagai bagian dari kehidupan, layaknya warna-warni alam yang menciptakan keindahan.

Kegemilangan Kerajaan Majapahit (Sumber: Koleksi Pribadi)

Dalam pencariannya akan makna hidup, Mpu Tantular menuangkan pemikiran itu dalam karya sastra yang kuciptakan, sebuah kakawin yang kelak dikenal sebagai "Sutasoma". Di sana, tertulis sebuah ungkapan yang muncul dari kedalaman batin, yakni “Bhinneka Tunggal Ika,” yang berarti meskipun kita berbeda-beda, kita tetaplah satu. Melalui kata-kata itu, Mpu Tantular ingin mengajak siapa pun yang membaca karyanya untuk melihat bahwa perbedaan tidak semestinya menjadi pemisah, melainkan penguat persatuan. Berkat dukungan dari para penguasa Majapahit, Mpu Tantular dan para pujangga sepertinya diberi kebebasan berpikir dan berkarya. Mereka berkumpul dan berdiskusi, berbagi cerita, pemikiran, serta rasa cinta pada tanah kelahirannya. Karya-karya sastra kakawin tumbuh subur, menjadi tempat di mana mereka menanamkan kebijaksanaan dan filosofi hidup yang luhur.

Penghormatan Tinggi Terhadap Agama Hindu Siwa (Sumber: Koleksi Pribadi)

Tantular berasal dari kata "tan” yang berarti tidak, dan “tular” yang berarti terpengaruh. Dengan nama ini, beliau berusaha menjadi pujangga yang tak mudah goyah dalam keyakinan, tetap teguh pada prinsip kebenaran dan kemanusiaan. Karena Mpu Tantular percaya bahwa kata-kata memiliki kekuatan yang dapat menyentuh jiwa, dan dengan itu pula beliau berusaha meninggalkan warisan sebuah pesan abadi tentang pentingnya harmoni dalam kemajemukan. Kini, meskipun raganya tak lagi ada, Mpu Tantular percaya pikirannya tetap hidup, mengalir dalam semangat generasi-generasi Nusantara yang tumbuh dengan kebanggaan akan persatuan. "Bhinneka Tunggal Ika" bukan hanya sekadar semboyan, melainkan ia adalah impian yang terukir dalam kisah hidup Mpu Tantular.

Perhatian Raja Terhadap Kehidupan Masyarakat (Sumber: Koleksi Pribadi)

Files