Sejarah Pura Alas Angker: Jejak Perjalanan Rsi Markandeya di Bali

Pura Alas Angker di Desa Kerta, Kecamatan Payangan, Gianyar, menyimpan sejarah panjang yang penuh makna. Sebagai tempat ibadah suci umat Hindu, pura ini memiliki kaitan erat dengan perjalanan Rsi Markandeya, tokoh penting dalam tradisi Hindu Bali. Dikelilingi oleh keindahan alam yang asri, pura ini menawarkan suasana tenang dan sarat nilai tradisional.

Apr 24, 2025 - 05:18
Apr 16, 2026 - 20:01
Sejarah Pura Alas Angker: Jejak Perjalanan Rsi Markandeya di Bali
Pura Alas Angker (Sumber Foto: Koleksi Pribadi)

Pura Alas Angker, yang terletak di Desa Kerta, Kecamatan Payangan, Gianyar, Bali, memiliki sejarah yang erat kaitannya dengan perjalanan Rsi Markandeya dalam menyebarkan ajaran Hindu di Pulau Bali. Di kawasan Payangan, Rsi Markandeya bersama para pengikutnya bermeditasi dan membuka lahan, meskipun daerah ini bukan menjadi tempat awal kehidupan baru mereka. Perjalanan panjangnya penuh dengan tantangan, termasuk wabah penyakit yang melanda para pengikutnya. Hingga saat ini, Pura Alas Angker menjadi pengingat akan perjuangan dan keberanian Rsi Markandeya dalam menyebarkan ajaran Hindu di Bali.

Kori Agung Pura Alas Angker (Sumber Foto: Koleksi Pribadi)

Rsi Markandeya adalah seorang yogi dan pendeta Hindu Siwa Tatwa asal India yang datang ke Nusantara pada awal abad ke-8 Masehi. Setelah sempat bermukim di Jawa Tengah, beliau melanjutkan perjalanan menuju Jawa Timur dan bertapa di Gunung Raung. Dari sana, beliau terus melanjutkan perjalanannya ke Bali, yang kemudian menjadi tempat penyebaran ajaran yang beliau bawa. Bersama para pengikutnya, beliau menembus hutan belantara yang masih liar dan belum tersentuh manusia. Di suatu titik, beliau bersemedi di tempat yang kelak dikenal dengan nama Payangan, setelah melihat tanda-tanda baik yang beliau yakini sebagai tempat yang penuh berkah.

Namun, perjalanan untuk membuka lahan di wilayah tersebut tidaklah mudah. Rsi Markandeya dan pengikutnya menghadapi tantangan besar berupa wabah penyakit yang mengancam keselamatan mereka. Dalam kondisi yang penuh kesulitan itu, Rsi Markandeya memohon kepada Hyang Widhi untuk keselamatan dan pemulihan kesehatan. Dengan doa yang penuh keyakinan, wabah tersebut berhasil diatasi. Lokasi di mana beliau berdoa dan memohon perlindungan ini kemudian dinamakan Alas AngkerPura Alas Angker kemudian dibangun sebagai simbol doa dan perlindungan bagi umat Hindu di kawasan tersebut.

Seiring berjalannya waktu, kawasan ini menjadi subur dan ideal untuk pertanian. Panen yang melimpah membawa kesejahteraan bagi masyarakat, sehingga wilayah ini diberi nama Kerta, yang berarti sejahtera. Nama ini mengingatkan akan perjuangan keras para pengikut Rsi Markandeya dalam membuka dan mengolah tanah yang sebelumnya sulit untuk dijamah.

Pelinggih di Utama Mandala Pura Alas Angker (Sumber Foto: Koleksi Pribadi)

Pura Alas Angker terletak di ketinggian sekitar 600 meter di atas permukaan laut dan dikelilingi oleh pepohonan yang rimbun. Suasana di pura ini memberikan kesan yang tenang dan sakral, serta menjadi tempat bagi umat Hindu untuk melakukan berbagai kegiatan keagamaan, seperti upacara persembahyangan. Pura Alas Angker yang memiliki kaitan dengan perjalanan Rsi Markandeya ini, menjadikannya sebagai salah satu titik penting dalam penyebaran ajaran Hindu di Bali. Sebagai simbol perjuangan dan harapan, Pura Alas Angker mencerminkan ketahanan masyarakat dalam menghadapi tantangan saat membuka lahan baru. Selain itu, Pura Alas Angker juga menjadi simbol penting dari warisan sejarah panjang kawasan Payangan yang kaya akan budaya dan tradisi lokal. 

Bale Panjang di Madya Mandala (Sumber Foto: Bale Panjang)

Di Madya Mandala Pura Alas Angker, terdapat Bale Panjang yang terletak di sisi utara dan timur. Bale ini digunakan untuk menempatkan simbol-simbol suci Ida Betara Betari selama upacara keagamaan, seperti piodalan atau pujawali. Ketika memasuki Utama Mandala, pengunjung akan disambut dengan sejumlah pelinggih yang menjadi bagian utama dari pura ini. Di sisi timur terdapat Linggih Dewi Sri, yang melambangkan kemakmuran dan kesuburan. Sementara di sisi utara, terdapat Pelinggih Meru, yang merupakan pelinggih utama di Pura Alas Angker.

Selain itu, di bagian utara Pura Alas Angker terdapat situs purbakala yang menjadi peninggalan berharga bagi sejarah kawasan ini. Situs ini dipercaya sebagai tempat di mana Rsi Markandeya melakukan pemujaan untuk memohon keselamatan bagi pengikutnya. Situs ini mencakup gundukan batu andesit yang tertanam dalam tanah, serta batu Lingga Yoni berbentuk bulat, yang memiliki makna penting dalam budaya Hindu. Di sekitar kawasan hutan pura juga banyak ditemukan batu andesit yang tersebar, menambah kekayaan arkeologis Pura Alas Angker.

Upacara Pujawali atau Odalan Pura Alas Angker dilaksanakan pada Buda Kliwon Ugu. Pada hari tersebut, umat Hindu dari berbagai penjuru dapat mengikuti berbagai upacara dan persembahyangan sebagai bentuk penghormatan kepada Hyang Widhi, serta memohon keselamatan dan kesejahteraan. Pura Alas Angker merupakan Pura Kahyangan Jagat, yang artinya umat Hindu dari mana pun diperbolehkan melakukan persembahyangan di sini. Upacara ini menjadi momen penting untuk mempererat hubungan umat dengan kekuatan sakral yang ada di pura, sekaligus melestarikan nilai-nilai luhur yang telah diwariskan sejak zaman dahulu.