Skanda Purana: Perjalanan Dewa Karthikeya, Sang Panglima dan Pahlawan Surga
Putra dari Shiva dan Parvati, dikenal sebagai dewa perang dan pahlawan. Dia lahir untuk mengalahkan raksasa jahat, Tarakasura. Kartikeya sering digambarkan dengan mengendarai merak, dan memegang tombak. Kartikeya melambangkan keberanian, kekuatan, dan perlindungan.
Kisah Karthikeya dimulai ketika para dewa mengalami masalah besar dengan raksasa Tarakasura, yang diberkahi dengan kekuatan besar dan tak terkalahkan oleh dewa-dewa lain. Namun, masalahnya, adalah Dewa Siwa tidak memiliki anak, karena saat itu ia sedang mendalami tapa (meditasi) setelah kematian istrinya, Sati. Para dewa sangat khawatir, karena hanya seorang putra dari Siwa yang bisa menyelamatkan dunia dari kehancuran.
Dewa Siwa menikah dengan Parwati (sumber:KoleksiPribadi)
Para dewa, dipimpin oleh Dewa Brahma dan Wisnu, memohon agar Dewa Siwa menikah kembali. Parwati, inkarnasi dari Sati, telah terlahir kembali dan melakukan tapasya (petapaan) yang berat untuk mendapatkan Dewa Siwa sebagai suaminya. Setelah banyak usaha, Siwa akhirnya bangkit dari meditasinya dan menikahi Parwati.
Dari Persatuan ini lahirlah percikan energi ilahi yang begitu kuat hingga tidak dapat ditanggung oleh Dewi Parwati sendiri. Oleh karena itu, percikan ini lahirlah Karthikeya.
Namun, Karthikeya tidak langsung diasuh oleh Parwati. Menurut Skanda Purana, setelah kelahirannya, Karthikeya dibawa oleh enam bintang. ia dikenal memiliki enam wajah (Shanmukha), yang memungkinkan dia menyusu dari semua ibu Krittika secara bersamaan. Itulah mengapa ia disebut Karthikeya.
Dewa Siwa memberikan Karthikeya tombak sakti, Vel (sumber:KoleksiPribadi)
Sejak kecil, Karthikeya menunjukkan tanda-tanda kekuatan dan kebijaksanaan luar biasa. Dewa Siwa memberikan pelatihan khusus kepada Karthikeya, menjadikannya ahli dalam seni bela diri, strategi perang, dan ilmu pengetahuan. Ia juga diberi senjata khusus, yaitu Vel, tombak sakti yang menjadi simbol kekuatannya.
Dalam versi Skanda Purana, Karthikeya tumbuh menjadi sosok yang tangguh, bijaksana, dan memiliki kekuatan yang setara dengan para dewa utama. Ia kemudian dipilih sebagai panglima perang para dewa untuk menghadapi Tarakasura.
Pertempuran Melawan Tarakasura oleh Kartikeya yang memimpin pasukan para dewa (sumber:KoleksiPribadi)
Setelah siap, Karthikeya memimpin pasukan para dewa dalam pertempuran besar melawan Tarakasura. Tarakasura adalah musuh yang sangat tangguh dan memiliki kekuatan yang sulit dikalahkan. Namun, dengan kecerdikan dan keterampilan perangnya, Karthikeya akhirnya berhasil mengalahkan raksasa tersebut dengan tombak Vel.
Kemenangan Karthikeya atas Tarakasura menandai kembalinya kedamaian dan keseimbangan di alam semesta. Setelah mengalahkan Tarakasura, Karthikeya dihormati oleh para dewa dan manusia sebagai pelindung dan dewa perang yang tak terkalahkan.
Kartikheya mengendarai burung merak (sumber:KoleksiPribadi)
Kemenangan kartikheya atas tarakasura menjadi legenda. Ia dipuji dan memperoleh berbagai gelar seperti Skanda, Shanmukha yang berarti enam wajah, Kumara yang berarti pemuda abadi, dan Deva Senapati yang berarti panglima pasukan para dewa. Dia menjadi simbol keberanian dan kekuatan, serta lambang perlindungan ilahi bagi mereka yang mencari keberanian dan kemenangan.
Dewa Karthikeya bersama Dewa Ganesha (sumber:KoleksiPribadi)
Kisah ini bermula dari kisah penciptaan alam semesta. Dewa Brahma menciptakan buah yang sangat istimewa, yang disebut "buah pengetahuan" (Jnana Phal). Buah ini memiliki kekuatan untuk memberikan kebijaksanaan dan pengetahuan yang tak terbatas. Brahma menciptakan buah ini dengan tujuan untuk memberikannya kepada makhluk yang paling layak menerimanya. Dewa Siwa, yang merupakan ayah Kartikeya dan Ganesha, ditugaskan untuk menentukan siapa yang paling layak menerima buah ini.
Perselisihan antara Dewa Karthikeya dan Dewa Ganesha (sumber: KoleksiPribadi)
Kartikeya, putra Siwa dari Parvati, adalah dewa perang yang gagah berani dan memiliki kekuatan luar biasa. Ia percaya bahwa dirinya adalah yang paling layak menerima buah pengetahuan karena kekuatan dan keberaniannya. Ganesha, putra Siwa dari istri pertamanya, adalah dewa kebijaksanaan dan pengetahuan. Ia percaya bahwa dirinya adalah yang paling layak menerima buah pengetahuan karena kecerdasannya dan kemampuannya dalam memahami hal-hal yang rumit. Keduanya berdebat dengan sengit tentang siapa yang paling layak menerima buah pengetahuan. Perselisihan mereka semakin memanas hingga akhirnya mereka memutuskan untuk berlomba mengelilingi dunia.
Dewa Karthikeya terbang mengelilingi dunia dengan burung merak (sumber:KoleksiPribadi)
Siwa menetapkan aturan perlombaan: siapa yang pertama mengelilingi dunia dan kembali ke tempat mereka memulai, dialah yang akan menerima buah pengetahuan. Dalam perlombaan tersebut, Karthikeya terbang mengelilingi dunia dengan cepat menggunakan kendaraan burung meraknya.
Ganesha dengan kedua orang tuanya (sumber:KoleksiPribadi)
Ganesha, yang tidak memiliki kecepatan seperti Kartikeya, memutuskan untuk menggunakan kecerdasannya. Ia mengelilingi orang tuanya, Siwa dan Parvati, yang dianggap sebagai representasi dari seluruh alam semesta. Ganesha, dengan kecerdasannya, berhasil mengelilingi orang tuanya lebih cepat daripada Kartikeya mengelilingi dunia. Siwa, terkesan dengan kecerdasan Ganesha, memutuskan untuk memberikan buah pengetahuan kepada Ganesha.
Kuil Palani dan Tiruchendur (sumber:KoleksiPribadi)
Dalam Skanda Purana, Karthikeya digambarkan tidak hanya sebagai dewa perang tetapi juga sebagai pelindung kebijaksanaan. Para pengikutnya memuja dia sebagai simbol kekuatan dan kebijaksanaan. Di India Selatan, terutama dalam tradisi Tamil, Karthikeya dikenal sebagai Murugan, dan pemujaannya sangat kuat. Kuil-kuil besar seperti Kuil Palani dan Tiruchendur didedikasikan untuknya, di mana ia dipuja dengan penuh pengabdian. Kisah ini mengajarkan bahwa kecerdasan dan kebijaksanaan lebih penting daripada kekuatan dan keberanian. Buah pengetahuan melambangkan pentingnya pengetahuan dan kebijaksanaan dalam kehidupan.