Unik! Desa Tigawasa ini Memiliki Pura Tanpa Bangunan Fisik yang Berada ditengah Hutan

Desa Tigawasa merupakan salah satu Desa Bali Aga yang masih kental akan budaya dan kearifan lokalnya namun, uniknya di Desa Tigawasa ini memiliki Pura yang tidak memiliki bangunan fisik. Untuk lebih lengkapnya mengenai Pura di Desa Tigawasa yuk simak artikel ini.

Apr 4, 2026 - 05:59
Mar 27, 2026 - 16:55
Unik! Desa Tigawasa ini Memiliki Pura Tanpa Bangunan Fisik yang Berada ditengah Hutan
Pura Pempatan (Sumber Photo : Koleksi Penulis)

Desa Tigawasa ini terletak di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng. Desa ini merupakan salah satu Desa Bali Aga (Bali Kuno) yang merupakan sekelompok masyarakat yang menetap di pegunungan, terutama dekat mata air. Karena itu mereka disebut Bali Aga yang artinya “Pegunungan”. Desa Tigawasa sudah terkenal dengan desa penghasil kerajinan anyaman bambu, Desa ini juga memiliki tradisi yang unik, yaitu tidak mengenal istilah pembakaran mayat serta kearifan lokal berupa kesenian sakral dan tradisional.

Nah, selain itu lebih uniknya, Desa Tigawasa ini memiliki Pura tanpa bangunan fisik dan Pura Kahyangan Tiga. Umumnya, Pura yang kita ketahui adalah pura yang memiliki bangunan arsitektur tradisional dengan ukiran dan ornament yang dibangun megah. Berbeda dengan Pura di Desa Tigawasa yang hanya hutan bambu, bambu tersebut yang akan digunakan untuk penyangga tempat sesajen.

Menurut Perbekel Desa Tigawasa I Made Suadarmayasa, menyatakan bahwa Pura tanpa bangunan fisik ini disebut dengan Pura Alam (Pura yang berada ditengah Hutan). Desa Tigawasa ini terdapat 9 Pura Alam yakni, Pura Kayehan Sanghyang manifestasi dari Dewa Wisnu yang dilambangkan dengan palungan, Pura Pememan manifestasi dari Dewa Brahma, Pura Munduk Taulan yang disimbolkan dengan Taulan Lingga Yoni manifestasi dari Dewa Siwa, Pura Pemantenan, Pura Baung, Pura Bolong, Pura Cegi, Pura Pendem, dan Pura Pempatan. 

Pura pempatan merupakan salah satu pura tanpa bangunan fisik yang memiliki sumber mata air yang dimana merupakan salah satu dari tiga beji yang terdapat di Desa Tigawasa. Sumber mata air yang terdapat di Pura Pempatan ini dimanfaatkan sebagai pemandian jenazah. Adapun syarat saat mengambil air beji pempatan ini dengan membeli air menggunakan pis bolong. Jumlah pis bolong ini sesuai dengan jumlah orang yang meninggal.

Beji Pempatan (Sumber Photo : Koleksi Penulis)

Terdapat sumber mata air lainnya di Desa Tigawasa yakni, Beji Sumai atau penduduk sering menyebutnya dengan air senang. Mata air beji Sumai ini dimanfaatkan untuk persembahyangan di Pura atau digunakan sebagai Tirta. Dan Beji Congok yang dimana sumber mata airnya digunakan sebagai Upacara Bhuta Kala

Dengan adanya 9 Pura ini dianggap sesuai dengan arah mata angin dan letaknya juga tersebar di ujung-ujung dekat perbatasan Desa. Pura Alam ini ada karena keyakinan pada Widhi Pertiwi, kekuatan Tuhan tak membuat bangunan Tugu (Pelinggih). Pada hari piodalan, masyarakat bersembahyang hanya dengan bantuan plapah bambu. Setiap Pura dipercaya memiliki penjaga yang tidak kasat mata. Masyarakat Desa Tigawasa sangat mensakralkan Pura Alam, tidak ada yang berani bertingkah laku sembarangan. Apabila melanggar maka akan ada konsekuensinya untuk orang tersebut dan keluarganya.

Dalam menjaga kesucian pura ini masyarakat memiliki aturan yang tidak tertulis. Seperti tidak boleh membuang limbah yang mengarah ke Pura dan dilarang mandi di sekitar Pura. Masyarakat yang memiliki lahan berdampingan dengan Pura Alam juga tidak akan berani melakukan pembangunan fisik. Lahan hanya akan ditanami oleh pepohonan seperti tanaman bambu, cengkih, dan lain sebagainya. Pura Alam ini memiliki pancoran jernih di sela-sela pohon. Di pancoran ini masyarakat menggunakan airnya untuk dijadikan Tirta atau air suci saat melaksanakan persembahyangan di Pura Alam.

Tidak hanya Pura Alam saja namun, di Desa Tigawasa ini juga memiliki Pura Kahyangan Tiga yang sudah seperti bangunan dengan arsitektur tradisional yakni, Pura Gedong Besakih, Pura Desa atau Bale Agung, dan Pura Segara. Desa Tigawasa ini tidak memiliki Pura Dalem dikarenakan Pura Dalem ini sudah dijadikan satu dengan Pura Desa (Bale Agung), yang dipercaya oleh penduduk setempat jika orang yang memiliki ilmu hitam maka akan musnah ketika menginjakkan kaki di Desa Tigawasa ini.

Pura Desa (Sumber Photo : Koleksi Penulis)

Pura Gedong Besakih ini merupakan tempat penghayatan Ida Sang Hyang Widhi yang berstana di Pura Besakih yang terletak di Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem. Pura ini didirikan karena pada zaman kerajaan dahulu apabila menuju upacara di Desa Tigawasa diharuskan untuk mengambil Tirta atau air suci di Pura Besakih

Pura Gedong Besakih (Sumber Photo : Koleksi Penulis)

Namun, karena jaraknya yang cukup jauh dan pada masa itu belum ada kendaraan maka dari itu penduduk harus berjalan kaki menuju Pura Besakih yang akan membutuhkan waktu lama, sesampainya di Desa selalu ada orang yang meninggal dan pada akhirnya upacara di tiadakan. Maka dari itu agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan didirikanlah Pura Gedong Besakih ini untuk penyawangan Tuhan yang bersemayam di Pura Besakih.

Selain itu, Desa Tigawasa ini memiliki kalender adatnya tersendiri untuk hari raya atau piodalan. Penduduk di Desa ini sangat dilarang untuk memasuki area Pura sembarangan. Karena mereka sendiri memiliki waktu tertentu untuk memasuki area Pura baik itu Pura Alam maupun Pura Kahyangan Tiga. Serta masyarakat yang sedang berduka seperti ada kematian, istilahnya cuntaka maka tidak boleh bersembahyang atau masuk kedalam Pura.