Agastya Muni: Kisah Perjalanan Hebat Maharsi Agastya ke Selatan
Dikenal dengan sebutan Bhatara Guru, Maharsi Agastya memulai perjalanannya ke selatan yang tidak disangka, mengubah hidupnya secara mendalam. Namun, pengaruhnya tidak berhenti di situ, setiap langkah yang diambilnya meninggalkan jejak yang signifikan dalam sejarah dan budaya. Bagaimana kelanjutan perjalanan Maharsi Agastya ke selatan?
Maharsi Agastya lahir setelah dilakukannya yadnya oleh Dewa Baruna dan Dewa Mitra yang memunculkan Dewi Urwasi, Maharsi Agastya kemudian lahir di sebuah kendi tanah. Ia merupakan anak ke-tujuh, seorang Maharsi Bernama Pulasta. Kelahirannya juga disertai oleh kelahiran kembarannya yang bernama Wasista. Kelahiran keduanya dari dalam kendi tanah membuat mereka dikenal sebagai Kumbayoni Maitrawaruni yang berarti lahir dari dalam kendi.
Maharsi Agastya digambarkan seperti seorang Brahman yang bijaksana, dengan perut buncit, bertubuh pendek, dan berjanggut. Maharsi Agastya menghabiskan masa remajanya di Varanasi, yakni sebuah desa suci Hindu di tepi sungai Gangga, yang terletak di wilayah bagian utara India.
Maharsi Agastya, di Varanasi (Sumber: Koleksi Pribadi)
Maharsi Agastya sangat bersemangat mempelajari kitab-kitab suci, mantra-mantra, hingga ilmu senjata gaib. Ia juga mendalami pelajaran-pelajaran yang diajarkan oleh Ayahnya, bersumber dari Kitab Suci Veda. Seiring berjalannya waktu kemampuan dan pengetahuannya terus meningkat, Maharsi Agastya berhasil menjadi salah satu dari tujuh Saptarsi pada Manwantara pertama.
Maharsi Agastya kemudian melakukan perjalanan ke Wilayah Selatan India. Berbekal hanya dengan busur panah dalam perjalanannya ke Swargalokha, Maharsi Agastya melihat sekumpulan orang tergantung di pohon. Orang-orang tersebut adalah leluhur dari Maharsi Agastya dan dia adalah alasan di balik kesengsaraan mereka.
Karena Maharsi Agastya belum menikah dan tidak memiliki keturunan, tidak ada seorangpun setelah dia yang dapat menawarkan persembahan kepada mereka. Maharsi Agastya tahu bahwa takdir dan misi pertamanya, adalah memiliki keturunan.
Maharsi Agastya, Lopamudra, dan Dhirdyasu (Sumber: Koleksi Pribadi)
Selama Perjalanannya, Maharsi Agastya Mempunyai seorang istri bernama Lopamudra. Lopamudra dikenal sebagai hasil karya Agastya yang dibuat dari berbagai bagian paling indah dari hewan. Namun, sebelum menjadi istrinya, Maharsi Agastya bertemu dengan Raja Widharbha. Seorang raja yang tidak dikaruniai oleh seorang anak.
Maharsi Agastya mengkaruniai Lopamudra, kepada Raja Widarbha untuk diangkat sebagai putrinya. Namun, ketika Lopamudra sudah saatnya menikah, Raja Widharba berada dalam dilema, dia tidak ingin putrinya menikah dengan seseorang yang bukan siapa-siapa. Lopamudra mengatakan kepada ayahnya bahwa dia ingin menikahi Maharsi Agastya, dan Maharsi Agastya pun dijodohkan.
Selama berumah tangga sebagai sepasang pengantin baru, Maharsi Agastya terlihat sibuk dengan pertapaannya dan melupakan semua tentang Lopamudra. Maharsi Agastya menyadari bahwa dia telah melupakan tugas terhadap istri dan leluhurnya. Maharsi Agastya lalu mengubah sikapnya dan memutuskan untuk memiliki anak dengan Lopamudra.
Namun, Lopamudra menuntut kekayaan yang cukup terlebih dahulu untuk anak mereka nanti. Maharsi Agastya lalu melakukan pertemuan ke Raja Shrutavarna, Maharsi Agastya disambut dengan hormat di kerajaannya, dan kemudian, ia meminta bantuan dari Raja. Raja Shrutavarna siap memberikan sejumlah harta, tetapi Maharsi Agastya menyadari bahwa jika dia mengambil harta tersebut, orang-orang di kerajaannya akan menderita.
Maharsi Agastya harus melanjutkan perjalanannya, ia pergi ke kerajaan lain dan bertemu dengan Raja Vadhryashava dan Trasadashu. Namun, belum juga dapat membawa harta yang cukup untuk Lopamudra. Maharsi Agastya dan ketiga raja itu semua memutuskan untuk menemui Asura yang kaya bernama Illwala.
Illwala adalah seorang Ashura, yang pernah mendekati seorang brahmana dan meminta seorang putra yang kuat, tetapi brahmana itu tidak memenuhi permintaannya. Sejak saat itu Illwala dan saudara laki-lakinya, Vattapi, membenci setiap Brahmana yang datang mengunjungi mereka. Vatapi akan berubah menjadi seekor kambing, Illwala kemudian menyajikan kambing tersebut kepada para brahmana yang kemudian merobek-robek perut brahmana. Dengan cara tersebut, dua saudara Ashura itu telah membunuh puluhan brahmana.
Ketika Maharsi Agastya dan para Raja sampai di Kerajaan Illwala, Mereka disambut dengan hangat. Namun, Maharsi Agastya tahu tentang Niat Illwala. ia memakan seluruh hidangan daging kambing yaitu Vattapi. Kemudian Illwala baru menyadari kekuatan Maharsi Agastya yang sebenarnya. Ia berjanji akan memberikan apapun yang Maharsi Agastya inginkan.
Setelah Kembali, Lopamudra kemudian setuju untuk memiliki anak. Seorang putra Bernama Dhirdyasu lahir untuk mereka dan dengan demikian leluhur Maharsi Agastya dibebaskan dari keadaan mereka dan naik ke Langit Surgawi ketika anak itu lahir. Maharsi Agastya harus meninggalkan istrinya dan kembali ke kehidupannya sebagai seorang Petapa yang bijaksana.
Para Dewa Sedang Memohon Bantuan Kepada Maharsi Agastya (Sumber: Koleksi Pribadi)
Pada suatu hari, Dewa Indra membunuh Asura Vrittra, kemudian dia ingin meninggalkan kerajaannya karena rasa bersalah telah membunuh seorang Brahmana. Para pengikut Brahmana yang dikenal sebagai, Kalakaya bersembunyi di samudera. Mereka merencanakan penghancuran alam semesta, dan menyadari bahwa para Maharsi adalah orang yang paling kuat di alam semesta.
Dewa Indra meminta nasihat kepada Dewa Wisnu, Beliau mengatakan satu-satunya cara untuk membunuh mereka adalah dengan menghancurkan lautan, pergilah ke Maharsi Agastya, dialah satu-satunya yang mampu melakukannya. Dengan demikian para Dewa mendekati Maharsi Agastya dan menyampaikan permintaan mereka.
Maharsi Agastya setuju dan bersama-sama mereka semua pergi ke tepi samudera, Maharsi Agastya mulai meminum seluruh samudra itu dan para Dewa menyaksikannya dengan kagum. Para Kalakaya tidak dapat mempertahankan diri dan mereka binasa.
Saat hendak melanjutkan perjalan melewati Vindhya, puncak-puncak gunung di Vindhya segera membungkuk, mengurangi ukuran mereka, dan memberikan penghormatan mereka kepada Maharsi Agastya. Namun, ada satu gunung, bernama Meru yang berdiri dengan angkuh. Ketinggian gunung Meru menghalangi sinar matahari di bumi dan para Dewa menjadi khawatir karena sinar matahari tidak mencapai seluruh bagian bumi.
Maharsi Agastya lalu ingin menguji Gunung-gunung tersebut. Namun sebelum itu, Maharsi Agastya mengatakan bahwa dia akan pergi ke Selatan dan gunung-gunung di Vindhya harus tetap pada postur yang sama sampai dia Kembali. Maharsi Agastya kemudian mendirikan sebuah Ashrama di India Selatan dan tinggal di sana. Ketika di sana, Gunung-gunung tersebut tidak pernah mengangkat puncaknya dan tetap dalam postur yang sama, termasuk Gunung Meru.
Kisahnya berlanjut pada saat seluruh dunia mengunjungi Himalaya, ketika Dewa Siwa melaksanakan pernikahan dengan Dewi Parvatti. Hal ini menyebabkan ketidakseimbangan yang menyebabkan Bumi miring ke satu sisi. Dewa Siwa meminta Maharsi Agastya pergi ke selatan dan mengembalikan keseimbangan Bumi. Maharsi Agastya sedikit kecewa, ia juga ingin mengambil bagian dalam Acara Surgawi.
Dewa Siwa kemudian memberkati Maharsi Agastya, bahwa Dewa Siwa dan Dewi Parvatti akan muncul kapanpun dan dimanapun, saat Maharsi Agastya ingin melihat mereka. Dia juga memberinya Divya Dristhi untuk melihat acara Surgawi di Himalaya terlepas dimanapun dia tinggal, Maharsi Agastya pun bergegas pergi ke Selatan.
Maharsi Agastya Sedang Bertapa (Sumber: Koleksi Pribadi)
Dalam kisah Maharsi Agastya, ia sering dianggap sebagai jelmaan Dewa Siwa. Maharsi Agastya mengembangkan bahasa Tamil turunan dari Dewa Siwa, dan dianggap sebagai salah satu orang bijak Siddhara kuno. Ia merupakan salah satu Saptarsi yang memberikan kontribusi pada evolusi sastra dan tata Bahasa, terbanyak.
Kisah Maharsi Agastya telah meninggalkan jejak yang tak terhapuskan bagi Rama dan kita semua. Kisah-kisahnya yang disampaikan melalui epos kitab suci dan cerita rakyat, sangatlah apik dan menekankan nilai-nilai pengetahuan, kerendahan hati, dan pengajaran akan kebenaran. Maharsi Agastya, merupakan seorang legenda, tokoh spiritual yang akan selalu dikenang.