Catursana: Pencarian Abadi akan Kebenaran Sejati
Perjalanan empat putra Dewa Brahma~Sanaka, Sanandana, Sanatana, dan Sanatkumara~(Para Kumara) yang memilih untuk hidup dalam meditasi dan kebijaksanaan, menolak keterikatan duniawi untuk mendapatkan darshan.

Catursana (Sumber: Koleksi Pribadi)
Pada suatu ketika, di awal penciptaan alam semesta, Dewa Brahma, sang pencipta dunia, merasa ada sesuatu yang kurang dalam ciptaannya. Meskipun ia telah menciptakan bumi, langit, bintang, dan semua makhluk hidup, ia merasa perlu menciptakan makhluk-makhluk yang mampu menjaga tatanan spiritual di alam semesta. Maka, dengan merenung dalam-dalam, Brahma menciptakan empat anak laki-laki langsung dari pikirannya. Mereka adalah Sanaka, Sanandana, Sanatana, dan Sanatkumara, yang dikenal sebagai Catursana.
Keempat anak ini bukanlah anak biasa. Meskipun terlihat seperti anak kecil, mereka memiliki pengetahuan yang sangat dalam tentang alam semesta dan spiritualitas. Brahma berharap mereka akan tumbuh dan membantu dalam tugas besar menciptakan dan mengatur dunia. Namun, begitu mereka diciptakan, sesuatu yang tak terduga terjadi.
Para Kumara: Sanaka, Sanandana, Sanatana, dan Sanatkumara (Sumber: Koleksi Pribadi)
Keempat Kumara memutuskan bahwa mereka tidak ingin terikat dengan dunia material. Mereka berkata kepada ayah mereka, Brahma, “Kami ingin menjalani kehidupan yang sepenuhnya didedikasikan untuk pencarian kebenaran dan kebijaksanaan. Kami tidak ingin terlibat dalam penciptaan atau terikat pada hal-hal duniawi.”
Brahma terkejut mendengar keputusan mereka. Dengan hati penuh harapan, ia mencoba meyakinkan mereka. “Anak-anakku, kalian memiliki peran besar dalam penciptaan ini. Jika kalian tidak membantu, bagaimana dunia akan berkembang dan berjalan dengan seimbang?”
Namun, para Kumara tetap pada pendirian mereka. Mereka memilih untuk menjalani hidup selibat, berdiam dalam meditasi, dan menolak segala bentuk keterikatan duniawi. “Kami ingin mencapai Brahman, kebenaran tertinggi,” kata Sanatkumara, si sulung.
Brahma, meskipun kecewa, akhirnya menerima keputusan mereka. Ia menyadari bahwa jalan yang dipilih oleh keempat anaknya adalah jalan yang sangat mulia, yakni jalan vairagya—penolakan terhadap kemelekatan dan keinginan duniawi.
Bertahun-tahun berlalu, dan para Kumara hidup dalam kebijaksanaan dan meditasi. Mereka terus menjelajah alam semesta, menyebarkan cahaya pengetahuan kepada semua makhluk yang mencari kebenaran. Suatu hari, mereka memutuskan untuk mengunjungi Vaikuntha, tempat tinggal Dewa Wisnu, untuk mendapatkan darshan (penglihatan suci) dari-Nya.
Dengan semangat, mereka berjalan menuju gerbang Vaikuntha. Namun, ketika mereka tiba di gerbang, mereka dihalangi oleh dua penjaga, Jaya dan Vijaya. Para penjaga ini, tidak mengenali siapa sebenarnya para Kumara itu, berkata, “Kalian tidak boleh masuk. Tempat ini bukan untuk anak-anak kecil seperti kalian.”
Jaya dan Vijaya Penjaga Gerbang Vaikuntha(Sumber: Koleksi Pribadi)
Sanaka, yang tertua dari mereka, berbicara dengan tenang, “Kami bukan anak kecil biasa. Kami datang untuk bertemu Dewa Wisnu. Biarkan kami masuk.”
Namun, Jaya dan Vijaya tetap menolak, tidak menyadari bahwa mereka sedang berhadapan dengan makhluk-makhluk agung yang sangat suci. Para Kumara merasa dihina dan tersinggung. Dalam kemarahan yang terkontrol, mereka mengutuk Jaya dan Vijaya, “Karena kalian telah menghalangi jalan kami, kalian akan jatuh dari Vaikuntha dan dilahirkan di bumi sebagai makhluk jahat.”
Mendengar kutukan ini, Jaya dan Vijaya sangat ketakutan. Mereka segera memohon kepada para Kumara agar mencabut kutukan itu, tetapi para Kumara tidak bisa menarik kembali kata-kata mereka. Pada saat itu, Dewa Wisnu sendiri keluar dari Vaikuntha, mendekati para Kumara dan para penjaga-Nya.
Dewa Wisnu Keluar Dari Vaikuntha(Sumber: Koleksi Pribadi)
Dewa Wisnu, dengan senyum lembut, berkata, “Para Kumara yang bijak, saya memohon maaf atas tindakan para penjaga saya. Mereka tidak bermaksud tidak hormat. Namun, kutukan yang kalian berikan tidak bisa dicabut, dan saya akan menghormati hukum alam.”
Jaya dan Vijaya memohon kepada Wisnu, “Tuhan, tolonglah kami! Kami tidak ingin terlahir sebagai makhluk jahat.”
Wisnu lalu berkata kepada mereka, “Kalian memiliki dua pilihan. Kalian bisa dilahirkan tujuh kali sebagai penyembahku atau tiga kali sebagai musuhku, tetapi setelah itu, kalian akan kembali ke Vaikuntha.”
Jaya dan Vijaya berpikir sejenak, dan mereka memutuskan untuk memilih kelahiran tiga kali sebagai musuh Wisnu, karena mereka ingin kembali ke Vaikuntha sesegera mungkin. Maka, karena kutukan itu, mereka terlahir kembali di bumi sebagai Hiranyaksha dan Hiranyakashipu, kemudian sebagai Ravana dan Kumbhakarna, dan akhirnya sebagai Shishupala dan Dantavakra, musuh-musuh dari berbagai inkarnasi Dewa Wisnu.
Para Kumara, setelah pertemuan ini, melanjutkan perjalanan mereka dengan penuh kedamaian. Meskipun mereka telah menjatuhkan kutukan, hati mereka tetap tenang karena mereka tahu bahwa semuanya berjalan sesuai dengan hukum alam semesta. Mereka kembali ke meditasi dan menyebarkan kebijaksanaan, menunjukkan kepada dunia arti dari ketidakterikatan dan pengejaran kebenaran tertinggi.
Sejak saat itu, nama Catursana dikenal sebagai simbol kebijaksanaan murni dan ketenangan batin. Mereka tetap hidup dalam kebijaksanaan abadi, melambangkan penolakan terhadap keinginan duniawi dan dedikasi penuh terhadap pencarian spiritual.