Kelahiran dan Pengorbanan Dewi Tara; Cinta Kasih yang Melampaui Batas

Dewi Tara, lahir dari air mata Avalokitesvara, melambangkan cinta kasih dan kebijaksanaan dalam tradisi Buddha Mahayana. Ia bersumpah selalu terlahir sebagai perempuan hingga samsara berakhir. Sebagai pelindung dari delapan bahaya, Tara melindungi makhluk dari rintangan spiritual dan mengajarkan cinta kasih menuju kebebasan sejati.

Feb 3, 2026 - 15:00
Nov 20, 2024 - 18:47
Kelahiran dan Pengorbanan Dewi Tara; Cinta Kasih yang Melampaui Batas
Dewi Tara (Sumber: Koleksi Pribadi)

Di alam semesta yang luas dan tidak terukur, jauh sebelum zaman kita, Bodhisattva Avalokitesvara, yang dikenal sebagai perwujudan belas kasih tanpa batas dalam tradisi Buddha Mahayana, bertekad membantu semua makhluk hidup terbebas dari siklus samsara—lingkaran kelahiran, kematian, dan penderitaan.

Avalokitesvara yang Bersedih Menyaksikan Penderitaan (Sumber:Koleksi Pribadi)

Dengan penuh cinta kasih, Avalokitesvara mengabdikan seluruh keberadaannya untuk membebaskan makhluk-makhluk dari penderitaan duniawi dan membawa mereka menuju pencerahan abadi.

Selama ribuan tahun, Avalokitesvara tanpa henti menyelamatkan makhluk yang terjebak dalam penderitaan. Setiap kali ada tangisan, ia mendengar dan datang membantu. Setiap kali ada kesedihan, ia hadir untuk menghibur. Tak terhitung jumlah makhluk yang berhasil ia bimbing menuju kebebasan spiritual. Namun, meski begitu banyak jiwa yang diselamatkan, pada suatu hari, Avalokitesvara menengok kembali ke alam dunia dan mendapati bahwa penderitaan di alam semesta ini tampaknya tidak berkurang. Jumlah makhluk yang masih terjebak dalam samsara tampak sama banyaknya dengan saat ia memulai misinya.

Melihat hal ini, Avalokitesvara merasa tercekik oleh kesedihan mendalam. Hatinya hancur melihat bahwa meskipun usahanya sangat besar, penderitaan tetap ada dan begitu masif. Dalam keputusasaan yang tak terlukiskan, air mata belas kasih menetes dari matanya. Air mata tersebut jatuh ke bumi, menyentuh tanah, dan mekar menjadi sekuntum bunga teratai yang sangat indah dan bercahaya suci.

Air Mata Avalokitesvara Mekar menjadi Teratai (Sumber:Koleksi Pribadi)

Dari kelopak bunga teratai itu lahirlah seorang perempuan yang bersinar terang—Dewi Tara, lahir dari air mata belas kasih Avalokitesvara.

Saat Dewi Tara lahir dari kelopak teratai, cahaya kebijaksanaan dan kasih sayang yang terpancar darinya langsung menyelimuti alam semesta. Ia berjanji untuk membantu Avalokitesvara dalam misinya menyelamatkan makhluk hidup dari penderitaan samsara. 

Namun, di tengah persidangan surgawi, muncul perdebatan di antara para dewa dan bodhisattva lainnya. Mereka menyarankan bahwa agar Tara dapat mencapai pencerahan tertinggi dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi semua makhluk, ia harus dilahirkan kembali sebagai laki-laki dalam kehidupan mendatang. Pada waktu itu, ada keyakinan bahwa hanya laki-laki yang mampu mencapai kebuddhaan penuh, sebuah pemikiran yang tertanam kuat dalam tradisi spiritual saat itu. 

Muncul Perdebatan Di Tengah Sidang Surgawi (Sumber: Koleksi Pribadi)

Mendengar saran ini, Tara dengan tegas menolak. Dengan keteguhan hati dan kebijaksanaan yang mendalam, ia menyatakan bahwa di alam pencerahan, tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Segala bentuk adalah ilusi belaka. Maka, Tara bersumpah bahwa ia akan selalu terlahir sebagai perempuan selama samsara masih ada, dan akan terus bekerja tanpa lelah untuk membebaskan makhluk-makhluk dari penderitaan.

Sumpah ini menjadi pengorbanan pertama Dewi Tara. Di tengah keyakinan bahwa laki-laki memiliki keistimewaan dalam mencapai pencerahan, Tara memilih untuk tetap berada dalam bentuk perempuan. Ia melakukan ini bukan karena terikat pada bentuk tubuhnya, melainkan untuk menantang dan membuktikan bahwa perempuan memiliki kekuatan spiritual yang setara dalam mencapai kebebasan tertinggi. Dengan pengorbanan ini, Tara mengangkat harkat dan martabat perempuan, terutama di tengah tradisi spiritual yang pada saat itu masih memandang sebelah mata potensi mereka.

Dalam perjalanannya sebagai dewi belas kasih, Tara dikenal sebagai pelindung dari delapan bahaya besar yang sering kali mengancam kemajuan spiritual seseorang. Bahaya ini tidak hanya mewakili ancaman fisik tetapi juga merupakan simbol dari rintangan batin yang harus diatasi agar seseorang bisa mencapai pencerahan. Delapan bahaya tersebut diwakili oleh singa, yang melambangkan kesombongan; gajah, yang menggambarkan kebodohan; api, yang mewakili kemarahan; ular, yang mencerminkan kecemburuan; perampok, yang melambangkan pandangan sesat; air banjir, yang mewakili keterikatan; penjara, yang mencerminkan keserakahan; dan setan, yang melambangkan keraguan.

 

Delapan Simbol Bahaya Yang Mengancam Kemajuan Spiritual (Sumber: Koleksi Pribadi)

Tara selalu muncul saat diperlukan untuk melindungi makhluk-makhluk dari ancaman ini, baik secara fisik maupun spiritual. Setiap kali ada makhluk yang terancam oleh salah satu dari delapan bahaya ini, Tara dengan kekuatan spiritualnya yang tak tergoyahkan datang menyelamatkan. Misinya adalah melindungi semua makhluk, tanpa memandang siapa mereka, dari ancaman yang dapat menyesatkan atau menghancurkan kemajuan spiritual mereka. Keberadaan Tara adalah sebuah pengorbanan terus-menerus, di mana ia rela mengabdikan seluruh dirinya demi melindungi setiap makhluk dari kekuatan gelap yang menghalangi jalan mereka menuju kebebasan. 

Salah satu kisah paling terkenal tentang Dewi Tara adalah pertempurannya melawan Maras, sosok iblis yang dikenal sebagai penggoda dalam ajaran Buddhisme. Maras selalu berusaha menghalangi makhluk-makhluk dari mencapai pencerahan dengan menggoda mereka agar terperangkap dalam keinginan duniawi, kebingungan, dan kemarahan. Maras takut dengan kekuatan Tara dan pengaruhnya yang semakin besar, sehingga ia bertekad menghentikannya. 

Maras mengirimkan pasukan besar berisi kekuatan-kekuatan gelap untuk melawan Tara dan menghentikan misinya menyebarkan belas kasih. Meski Tara mengetahui bahaya yang akan datang, ia tidak gentar.

 Dengan tekad yang kuat, Tara berdiri di garis depan, melindungi makhluk-makhluk yang tak berdaya dari serangan pasukan Maras. Setiap kali Maras mencoba menyerangnya dengan ilusi atau menggoda pikirannya, Tara menghancurkan ilusi-ilusi tersebut dengan kekuatan meditasinya yang mendalam. Dalam pertempuran ini, bukan hanya fisik yang dipertaruhkan, tapi juga ketenangan dan kejernihan batinnya.

Dewi Tara Menghancurkan Ilusi Maras Dengan Kekuatan Meditasinya (Sumber: Koleksi Pribadi)

Meski menghadapi berbagai godaan yang datang dalam wujud kekuatan gelap, Tara tidak pernah goyah dalam komitmennya untuk menyelamatkan makhluk-makhluk dari kehancuran spiritual. Akhirnya, Tara berhasil mengalahkan Maras dan mematahkan upaya iblis tersebut untuk menyesatkan umat manusia. Kisah ini menggambarkan betapa besar pengorbanan Tara, yang rela mengorbankan kenyamanan batinnya demi kebaikan makhluk lain.

Dalam kisah lain yang menggambarkan pengorbanan Tara, ia muncul dalam wujud seorang putri kerajaan bernama Jñanacandra. Dikenal sebagai putri yang cantik, bijaksana, dan penuh belas kasih, Jñanacandra sangat dicintai oleh rakyatnya. Meskipun ia hidup dalam kemewahan istana, hatinya selalu tertuju pada penderitaan makhluk-makhluk lain. Baginya, hidup hanya berarti jika ia dapat mengabdikan dirinya sepenuhnya untuk kebaikan orang lain. 

Pada suatu waktu, kerajaannya diserang oleh musuh yang jauh lebih kuat. Melihat penderitaan rakyatnya, Jñanacandra tahu bahwa satu-satunya cara untuk menyelamatkan mereka adalah dengan mengorbankan dirinya.

 Tanpa ragu, ia menawarkan dirinya sebagai tawanan untuk menyelamatkan kerajaannya dari kehancuran yang lebih besar. Namun, sebelum musuh dapat menyentuhnya, Jñanacandra mengungkapkan dirinya sebagai perwujudan Dewi Tara.

 

Jñanacandra Mengungkapkan Dirinya sebagai Perwujudan Dewi Tara (Sumber: Koleksi Pribadi)

Dengan belas kasih yang besar, ia tidak menghancurkan musuh-musuhnya, tetapi justru mengubah hati mereka. Para penyerang meninggalkan jalan kekerasan, dan kerajaannya kembali damai. 

Kisah ini adalah contoh nyata bagaimana Tara mengorbankan dirinya, tidak hanya secara fisik tetapi juga secara spiritual, demi keselamatan makhluk-makhluk lain. Dengan tindakan penuh kasih sayang, Tara menunjukkan bahwa kekuatan terbesar terletak dalam kemampuan untuk mengubah hati, bukan dengan kekerasan.

Dewi Tara adalah perwujudan dari cinta kasih tanpa batas, lahir dari air mata belas kasih Avalokitesvara. Dalam berbagai bentuknya, ia menunjukkan keberanian, ketekunan, dan pengorbanan yang luar biasa dalam melindungi makhluk dari penderitaan, baik fisik maupun spiritual. Dari sumpahnya untuk selalu terlahir sebagai perempuan hingga pertempurannya melawan kekuatan gelap dan pengorbanannya sebagai Putri Jñanacandra, Tara adalah simbol kekuatan spiritual yang melampaui batas-batas gender dan bentuk.

Kasih Sayang Dewi Tara yang Tanpa Batas (Sumber: Koleksi Pribadi)

Tara mengajarkan bahwa dalam upaya mencapai kebebasan tertinggi, diperlukan keberanian untuk menghadapi rintangan, ketekunan untuk tetap berjalan di jalan kebenaran, dan belas kasih yang tak terbatas untuk menolong semua makhluk. Kisah-kisahnya terus menginspirasi mereka yang mencari pencerahan, mengingatkan kita bahwa dalam menghadapi tantangan hidup, kekuatan spiritual sejati terletak dalam keberanian, pengorbanan, dan cinta tanpa pamrih.

 

Files