Pesona Pura Udyana Sambong: Jejak Budaya dan Tradisi Brahmana di Bali Utara

Pura Udyana Sambong merupakan salah satu pura yang diyakini sebagai pura leluhur bagi kasta Brahmana di Bali Utara. Keberadaan pura ini tidak hanya memiliki nilai religius, tetapi juga menjadi simbol penghormatan terhadap leluhur yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Hindu, khususnya di wilayah Kabupaten Buleleng.

May 2, 2026 - 05:50
Apr 16, 2026 - 19:57
Pesona Pura Udyana Sambong: Jejak Budaya dan Tradisi Brahmana di Bali Utara
Pura Udyana Sambong (Sumber Foto: Koleksi Pribadi)
Pura ini terletak di Desa Kayu Putih, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng. Lingkungan alam yang masih asri dan tenang menciptakan suasana sakral yang memperkuat fungsi pura sebagai tempat pemujaan dan perenungan spiritual.
Salah satu keistimewaan Pura Udyana Sambong terletak pada gaya arsitektur kuno yang masih dipertahankan hingga kini. Tata bangunan pura, pelinggih, serta ornamen tradisionalnya mencerminkan nilai-nilai filosofis Hindu Bali yang mendalam. Keaslian ini menjadi bukti nyata komitmen masyarakat dalam menjaga warisan budaya leluhur agar tetap lestari.

Mata Air Alami (Sumber Foto: Koleksi Pribadi)
Pura Udyana Sambong juga dikenal memiliki tirta atau air suci yang bersumber dari mata air alami. Tirta ini dipercaya telah ada sebelum pura dibangun dan memiliki nilai spiritual yang tinggi. Air suci tersebut digunakan dalam berbagai rangkaian upacara keagamaan dan diyakini membawa kesucian serta keseimbangan rohani bagi umat yang memohon anugerah.
ㅤㅤ
Secara historis Pura Udyana Sambong dibangun pada tahun Caka 1548 atau sekitar abad ke-17, tepatnya pada hari Anggara Kliwon Julungwangi, yang bertepatan dengan 27 Oktober 1626 pada sasih Kapat. Pura ini didirikan oleh Ida Danyang Wiraga Sandi, seorang tokoh spiritual yang memiliki peran penting dalam sejarah keagamaan Bali Utara. Oleh karenanya, hingga saat ini piodalan Pura Udyana Sambong dilaksanakan setiap Anggara Kliwon Julungwangi sebagai bentuk penghormatan atas hari berdirinya pura. ㅤ
Ida Danyang Wiraga Sandi diceritakan sedang melaksanakan dharma yatra dari Semarapura, tepatnya dari Puri Gelgel Klungkung, bersama keluarga Brahmana. Perjalanan spiritual tersebut mengarah ke selatan hingga mencapai kawasan Gunung Majalangu dan Bukit Tamblingan. Selanjutnya, perjalanan dilanjutkan ke arah utara, hingga dari kejauhan tampak sebuah pohon tangi yang tumbuh dengan asri di wilayah Kayu Putih.

Batu Besar Tempat Bertapa (Sumber Foto: Koleksi Pribadi)
Dalam perjalanan tersebut, Ida Danyang Wiraga Sandi berhenti setelah kedatangan Ki Pasek Gobleg yang menghadap dan menanyakan maksud perjalanan beliau, apakah hendak kembali ke Dwipa atau ke Jawa. Atas permohonan Ki Pasek Gobleg yang kemudian direstui oleh Ki Panji Sakti, Ida Danyang Wiraga Sandi diberikan tempat untuk dijadikan pasraman, lengkap dengan pelinggih suci serta Toya Kelebutan, yaitu mata air suci yang berasal dari kawasan Gunungsari. ㅤ
Pemberian tempat ini bertujuan agar Ida Danyang Wiraga Sandi berkenan menetap di Kayu Putih dan dijadikan nabe bhagawanta, yakni penasihat spiritual raja untuk menjaga keharmonisan dan keseimbangan jagat Buleleng. di sebuah kawasan yang dikenal sebagai Telaga Sammong yang berarti telaga macan, Ida Danyang Wiraga Sandi dipercaya melakukan tapa dan meditasi di atas sebuah batu besar, hingga mencapai acintya bhuwana, yakni kesadaran spiritual tertinggi tentang hakikat alam semesta. Peristiwa spiritual tersebut menjadi dasar penamaan Pura Udyana Sambong, sekaligus memperkuat kesakralan kawasan ini. Hingga saat ini, batu besar yang menjadi saksi sejarah hakiki tersebut masih dapat dijumpai, menjadi penanda nyata perjalanan spiritual leluhur yang terus dihormati dan dimuliakan oleh masyarakat.

Gerbang Menuju Pura Udyana Sambong (Sumber Foto: Koleksi Pribadi)
Karena pura ini merupakan tempat pemujaan Ida Bhatara Lelangit sebagai leluhur, Pura Udyana Sambong berfungsi sebagai pura sekaligus kahyangan. Di tempat ini para sentana menjalin kekerabatan, saling asah, asih, dan asuh, serta bersatu dalam kebersamaan sebagai wujud pelestarian nilai-nilai leluhur. Pura ini menjadi ruang spiritual untuk mengenang, menghormati, dan menjaga hubungan sakral antara generasi sekarang dengan para leluhur. Keberadaan Pura Udyana Sambong tidak hanya memperkuat identitas keagamaan, tetapi juga memperkaya khazanah budaya Bali Utara yang terus hidup dan dilestarikan hingga saat ini, sekaligus menjadi pengingat akan pentingnya menjaga keseimbangan antara nilai spiritual, tradisi leluhur, dan kehidupan masyarakat di tengah perkembangan zaman.