Pralambang Bhasa Wewatekan: Kakawin Duka Putri Klungkung atas Gugurnya Sang Ayah dalam Puputan Kusamba dan Bayangan Kolonial
Kakawin Pralambang Bhasa Wewatekan lahir dari ratapan seorang putri Klungkung atas gugurnya ayahnya dalam puputan Kusamba. Karya ini menonjol karena menampilkan bahasa campuran, pujian kepada leluhur, dan catatan sejarah. Melalui karya ini, pengalaman personal dan konteks sejarah berpadu, menjadikannya warisan budaya yang bernilai tinggi.
Jejak Duka di Puri Klungkung
Tahun 1849 menjadi salah satu masa paling gelap dalam sejarah Klungkung. Di pesisir Kusamba, Raja Dewa Agung Putra Kusamba gugur dalam peristiwa puputan, perang habis-habisan melawan pasukan Belanda. Tragedi ini melahirkan karya sastra unik berjudul Pralambang Bhasa Wewatekan, yang ditulis oleh putri sang raja, Ida I Dewa Agung Istri Kanya. Kakawin ini lahir dari ratapan pribadi, jauh dari kisah dewa atau epik India yang biasanya menjadi isi kakawin.
Perang Kusamba di Tepi Pantai Kusamba, Ilustrasi AI (sumber: Koleksi Pribadi)
Lingkungan keraton Semarapura yang tertutup menjadi latar belakang tumbuhnya kesadaran sastra putri Klungkung ini. Dibesarkan di tengah tradisi kerajaan yang kental dengan nilai Hindu, Ida I Dewa Agung Istri Kanya menyerap kebijaksanaan ayahnya, Dewa Agung Putra Kusamba, dan para pujangga keraton. Nilai kesopanan, rendah hati, dan penghormatan terhadap leluhur membentuk cara pandangnya terhadap kehidupan, yang kemudian tercermin dalam karya sastra yang ia buat. Kesadaran ini menjadi jawaban atas kesedihan mendalam akibat konflik politik dan peperangan yang mewarnai abad XIX di Bali.
Suara Lembut Seorang Putri
Kakawin ini menampilkan sisi lain dari sastra Bali yaitu suara seorang perempuan bangsawan yang menuangkan kesedihannya dalam baris-baris puisi. Nada lirih dan ratapan tertahan terlihat jelas saat ia menggambarkan kehilangan ayah sekaligus guru dan raja. Melalui karya ini, dukanya terangkat dari hati menjadi kata-kata, sebuah bentuk pelampiasan dan pengolahan emosi yang sistematis.
Patung Ida I Dewa Agung Istri Kanya (sumber: Koleksi Pribadi)
Selain itu, karya ini menyingkap pengalaman masa lampau kerajaan Klungkung, dengan menekankan kebesaran Dewa Agung Putra Kusamba. Informasi rinci mengenai kehidupan keraton, pakaian raja, dan protokol istana memberi konteks historis sekaligus menunjukkan hubungan personal sang penulis dengan lingkungannya. Pendekatan ini memadukan narasi sejarah dan ekspresi emosional yang mendalam.
Ciri Unik Kakawin
Berbeda dari kakawin klasik, Pralambang Bhasa Wewatekan menampilkan beberapa keunikan. Bahasa yang digunakan mayoritas Jawa Kuno, tetapi juga memuat nama asing seperti Belanda, yang jarang ditemui dalam karya tradisional. Tidak ada manggala yang memuja dewa, melainkan pujian kepada leluhur dan ayahnya. Epilog diganti dengan nada sendu, menegaskan kesedihan yang tidak kunjung reda.
Potret Puputan Klungkung (sumber: Koleksi Pribadi)
Selain itu, karya ini merupakan hasil kolaborasi pada bagian awal penulisan antara Ida I Dewa Agung Istri Kanya dan ayahnya, Dewa Agung Putra Kusamba, di mana pengalaman, nasihat, dan pengaruh raja dituangkan ke dalam bait-bait awal kakawin. Setelah itu, Ida I Dewa Agung Istri Kanya melanjutkan penulisan secara mandiri, dan kemudian muridnya menyelesaikan bagian akhir dalam bentuk kidung, sehingga tercipta karya bertiga yang menyatu secara harmonis.
Dari Ratap Menjadi Ingatan
Walau berangkat dari duka seorang putri, kakawin ini menjadi memori kolektif masyarakat Bali. Pembaca diajak menyelami batin seorang anak yang meratap sekaligus mengingat keberanian leluhur yang tidak mau tunduk. Peristiwa puputan Kusamba menjadi simbol keteguhan hati dan kehormatan kerajaan. Seiring bait-baitnya dibaca, pembaca memahami bagaimana duka pribadi dikonversi menjadi narasi sejarah dan penghormatan terhadap nilai budaya. Perpaduan antara kisah personal dan sejarah kolektif menjadikan karya ini sumber berharga bagi penelitian sejarah dan sastra Bali.