Pura Penataran Pande Beng Jejak Kesetiaan dan Sejarah Desa Beng dari Restu Raja Gianyar

Pura Penataran Pande Beng merupakan sumbu sejarah bagi Desa Beng yang didirikan oleh soroh Pande sebagai pusat spiritual sekaligus "bengkel kosmik" bagi keahlian metalurgi. Pura ini merekam jejak aliansi strategis antara komunitas pandai besi dengan Dinasti Dewa Manggis Kuning, di mana teknologi persenjataan menjadi penopang vital bagi legitimasi kekuasaan para raja. Tidak hanya berfungsi sebagai tempat pemujaan leluhur, situs ini juga menjadi saksi bisu atas ironi sosial dan perlawanan "Pande Menggugat," sebuah gerakan bersejarah yang menuntut kesetaraan status di tengah hierarki kasta yang kaku. Dengan memadukan narasi pengabdian dan perjuangan identitas, Pura Penataran Pande Beng kini berdiri sebagai monumen pengingat bahwa kehormatan sejati suatu komunitas tidak ditentukan oleh label sosial semata, melainkan oleh keahlian, peran spiritual, dan keteguhan sejarah yang mereka miliki.

Feb 5, 2026 - 05:13
Feb 4, 2026 - 20:41
Pura Penataran Pande Beng Jejak Kesetiaan dan Sejarah Desa Beng dari Restu Raja Gianyar
Krama soroh Pande saat bersembahyang di Pura Penataran Pande Beng, merefleksikan perpaduan keahlian teknis dan pengabdian spiritual. (Sumber: Koleksi Pribadi)

Pura Penataran Pande Beng di Gianyar adalah sumbu sejarah Desa Beng, didirikan sebagai kahyangan utama oleh soroh Pande kelompok genealogis pandai besi yang mewarisi keahlian pandai logam. Kehadiran pura ini menegaskan bahwa Desa Beng adalah cikal bakal pemukiman yang berpusat pada teknologi, sebuah 'bengkel kosmik' tempat keahlian teknis diangkat menjadi kekuatan spiritual. Peran Pande sangat fundamental, bahkan meluas hingga Pura Agung Besakih, di mana mereka bertanggung jawab atas penataan benda logam di Pura Catur Lawa Ida Ratu Pande. Pura ini didedikasikan untuk memuja leluhur pandai logam dan merefleksikan identitas desa sebagai pusat keahlian teknis-spiritual yang mendalam.

Jaba Sisi Pura Penataran Pande Beng, saksi bisu aliansi sejarah antara soroh Pande dengan Kerajaan Gianyar. (Sumber: Koleksi Pribadi)

Sejarah Desa Beng terjalin erat dengan kedaulatan politik Kerajaan Gianyar, bermula dari restu dan aliansi strategis dengan Dewa Manggis Kuning, leluhur utama raja-raja Gianyar. Para ksatria penguasa sangat bergantung pada soroh Pande sebagai pemasok senjata, keris, dan pusaka benda suci yang melegitimasi kekuasaan Trah Dewa Manggis Kuning. Oleh karena itu, Pura Penataran Pande Beng adalah saksi bisu jejak kesetiaan Pande kepada dinasti ksatria, menjadi simpul vital di mana teknologi perang dan ritual bertemu dengan kebutuhan kekuasaan, menjadikan desa ini simpul vital dalam sejarah pembentukan Kerajaan Gianyar.

Namun, di balik narasi kesetiaan dan peran vital sebagai penyokong utama kedaulatan, terdapat ironi sosial yang mendalam, di mana hierarki kasta menempatkan Pande sebagai Jaba Wangsa status yang kontradiktif dengan keunggulan fungsional mereka. Ketegangan antara keunggulan teknis dan status sosial ini memicu pergolakan mendasar yang dikenal sebagai Kisah Pande Menggugat. Desa Beng, yang seharusnya menjadi simbol kebanggaan, justru menjadi titik episentrum perlawanan. Bukti arsip kolonial mencatat bahwa pada 20 Mei 1911, Pande Besi Desa Beng secara formal mengajukan surat permintaan kepada Residen Bali dan Lombok, menuntut klarifikasi atas gelar atau status mereka, mengukuhkan Desa Beng sebagai titik nol aktivisme sejarah modern Bali.

Utama Mandala Pura Penataran Pande Beng, pusat penyucian keahlian logam sekaligus simbol keteguhan identitas sejarah soroh Pande. (Sumber: Koleksi Pribadi)

Hingga kini, Pura Penataran Pande Beng berdiri sebagai monumen pengingat akan aliansi kuno dan perlawanan abadi. Pura ini merangkum narasi pembentukan Desa Beng yang tidak hanya dibangun di atas fondasi kekuasaan Dewa Manggis Kuning, tetapi juga di atas semangat Pande untuk menuntut pengakuan yang setara dengan keahlian mereka. Soroh Pande, yang kini bernaung di bawah Maya Semaya Warga Pande, terus memegang teguh identitas mereka, mengajarkan bahwa nilai sejati sebuah komunitas tidak ditentukan oleh label sosial, melainkan oleh keahlian, peran spiritual, dan keteguhan identitas yang ditempa oleh sejarah.