Saat Tawa Jadi Sastra: Menyelami Sesenggakan Bali

Di tengah derasnya arus modernisasi, masyarakat Bali tetap menjaga tradisi lisan yang penuh makna. Salah satu warisan sastra yang masih lestari hingga kini adalah sesenggakan, bentuk peribahasa unik dalam bahasa Bali yang sarat humor, sindiran, dan pengandaian. Tidak sekadar hiburan, sesenggakan menjadi media pendidikan moral dan kontrol sosial yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Mar 21, 2026 - 06:46
Dec 6, 2025 - 12:45
Saat Tawa Jadi Sastra: Menyelami Sesenggakan Bali
Anak Muda Bali menggunakan Sesenggakan sebagai percakapan sehari-hari (Sumber Foto: Koleksi Pribadi)

Sesenggakan merupakan salah satu jenis peribahasa Bali yang tergolong Basita Paribasa. Secara etimologis, kata “sesenggakan” berasal dari akar kata senggak yang berarti “menyinggung” atau “menyentil”, ditambah akhiran -an. Sesuai namanya, bentuk ungkapan ini digunakan untuk menyampaikan sindiran atau kritik secara halus melalui perumpamaan.

Berbeda dengan peribahasa lain yang biasanya serius atau formal, sesenggakan hadir dengan gaya santai, penuh humor, dan mudah diingat. Ungkapan ini biasanya diawali dengan kata “buka yang berarti seperti atau bagaikan, lalu dilanjutkan dengan dua klausa: bagian pertama berupa perumpamaan, dan bagian kedua berisi sindiran atau makna tersembunyi.

Keunikan struktur ini membuat sesenggakan mudah diingat sekaligus efektif dalam menyampaikan pesan. Masyarakat sering menggunakannya dalam percakapan sehari-hari, dunia pendidikan, pertunjukan seni, hingga acara adat. Dengan cara itu, sesenggakan tidak hanya menghibur, tetapi juga menjadi sarana menjaga etika sosial, mengingatkan, atau bahkan menegur tanpa menyinggung perasaan.

Sejarah dan Perkembangan

Tradisi sesenggakan diyakini telah berkembang sejak ratusan tahun lalu. Ia lahir dari kebiasaan masyarakat Bali dalam menyampaikan nasihat dan kritik lewat ungkapan metaforis yang sederhana. Pada masa lampau, sesenggakan kerap digunakan dalam pendidikan tradisional untuk mengajarkan nilai moral, etika, dan sopan santun kepada generasi muda.

Sebuah Naskah Sesenggakan dalam Lontar Bali (Sumber Foto: Koleksi Pribadi)

Seiring perkembangan zaman, sesenggakan tetap lestari karena sifatnya yang fleksibel. Selain sebagai media pendidikan, ia juga menjadi hiburan dalam pertemuan sosial maupun pentas seni. Keberadaannya sering disejajarkan dengan bentuk peribahasa Bali lainnya, seperti sesonggan, meskipun sesenggakan lebih singkat, ritmis, dan berfokus pada sindiran.

Contoh Sesenggakan dan Maknanya

Sesenggakan disusun sedemikian rupa agar mudah diingat, sekaligus menyampaikan nilai moral, etika, dan kearifan lokal secara halus. Dalam percakapan sehari-hari, ungkapan ini tak hanya menghibur, tetapi juga menjadi jembatan antara pendidikan dan tradisi leluhur. Berikut beberapa contoh sesenggakan yang populer di kalangan masyarakat Bali:

Buka bantenne, masorohan. (Sumber: Koleksi Pribadi)

Salah satu contohnya adalah Buka bantenne, masorohan. Sesenggakan ini secara halus mengkritik ketidakadilan, terutama ketika hanya sebagian orang yang diistimewakan atau diutamakan. Melalui ungkapan ini, kita diingatkan untuk berlaku adil dan menghargai setiap individu tanpa pilih kasih. Pesannya juga mengajak kita berpikir kritis tentang perlakuan yang diterima atau diberikan kepada orang lain.

Buka batun buluane, nglintik tuah abesik. Ilustrasi AI (Sumber: Koleksi Pribadi)

Contoh lainnya adalah Buka batun buluane, nglintik tuah abesik. Sesenggakan ini digunakan untuk menyindir seseorang yang hidup menyendiri atau enggan bergaul dengan sekitar. Pesan dari sesenggakan ini adalah untuk mengingatkan kita akan pentingnya kebersamaan. Ungkapan ini juga menekankan bahwa interaksi dengan orang lain akan membawa pengalaman dan pelajaran berharga dalam hidup kita.

Buka dedalune, kampid baan nyilih. Ilustrasi AI (Sumber: Koleksi Pribadi)

Terdapat juga sesenggakan Buka dedalune, kampid baan nyilih untuk menyindir mereka yang terlihat mewah atau berpenampilan menarik, padahal semua yang dipakai bukan miliknya. Pesannya mengajarkan kejujuran dan pentingnya bersikap apa adanya. Ungkapan ini mengingatkan kita bahwa penampilan luar bisa menipu dan kesederhanaan seringkali lebih berharga.

Buka Becicane ujanan, nguci. Ilustrasi AI (Sumber: Koleksi Pribadi)

Sesenggakan lainnya yaitu, Buka Becicane ujanan, nguci, menggambarkan orang yang banyak bicara tetapi tidak jelas maksudnya. Pesan dari ungkapan ini adalah agar setiap kata yang diucapkan membawa makna dan tujuan yang jelas. Selain itu, sesenggakan ini menekankan pentingnya berpikir sebelum berbicara agar komunikasi lebih efektif.

Buka cicinge ngongkong, tuara pingenan nyegut. Ilustrasi AI (Sumber: Koleksi Pribadi)

Ungkapan ini menyinggung orang yang terlihat berani, tetapi sebenarnya penakut. Buka cicinge ngongkong, tuara pingenan nyegut mengingatkan bahwa keberanian sejati harus dibuktikan melalui tindakan nyata, bukan sekadar tampilan atau perkataan. Maknanya juga mengajarkan kita untuk menilai orang dari perilakunya, bukan dari kesan pertama semata.

Buka dangap-dangape, gede-gede kayune ogara. Ilustrasi AI (Sumber: Koleksi Pribadi)

Buka dangap-dangape, gede-gede kayune ogara menggambarkan seseorang yang ingin melakukan hal besar, padahal kemampuan dan sumber dayanya terbatas. Pesan sesenggakan ini menekankan pentingnya mengenali batas diri. Selain itu, ungkapan ini mengajarkan kebijaksanaan dalam mengambil keputusan agar tidak menjerumuskan diri sendiri.

Buka goake, ngadanin ibane. Ilustrasi AI (Sumber: Koleksi Pribadi)

Ada juga sesenggakan yang berbunyi, Buka goake, ngadanin ibane yang tertuju untuk menyoroti orang yang berbuat jahat lalu menuduh orang lain sebagai pelaku. Maknanya adalah agar kita selalu bertindak jujur dan menghindari menyebarkan fitnah. Ungkapan ini juga mengingatkan bahwa integritas adalah dasar dari kepercayaan dalam kehidupan sosial.

Buka jangkrike, galak di bungut. Ilustrasi AI (Sumber: Koleksi Pribadi)

Salah satu sesenggakan yang menarik lainnya adalah Buka jangkrike, galak di bungut. Ungkapan ini menyoroti orang yang galak saat berbicara, akan tetapi tidak mampu menindaklanjuti ucapannya. Pesannya mengajarkan pentingnya keselarasan antara kata dan tindakan. Selain itu, ungkapan ini juga menekankan konsistensi dan tanggung jawab sebagai bagian dari karakter seseorang.

Buka benange suba kadung maceleban. Ilustrasi AI (Sumber: Koleksi Pribadi)

Ungkapan Buka benange suba kadung maceleban digunakan untuk menyinggung orang yang sudah memulai suatu pekerjaan sehingga harus menyelesaikannya. Pesan dari sesenggakan ini menekankan tanggung jawab dan disiplin. Ungkapan ini juga mengingatkan kita bahwa menyelesaikan apa yang sudah dimulai adalah tanda kedewasaan dan kesungguhan.

Buka entikan oonge, ngulah pesu. Ilustrasi AI (Sumber: Koleksi Pribadi)

Terakhir, Buka entikan oonge, ngulah pesu menggambarkan orang yang berbicara tanpa pedoman atau dasar berpikir. Sesenggakan ini mengajarkan pentingnya berpikir matang sebelum bertindak atau berbicara. Pesannya juga menekankan bahwa kebijaksanaan dalam tutur kata mencegah timbulnya masalah dan konflik.

Sesenggakan adalah bukti kreativitas masyarakat Bali dalam mengemas kritik, humor, dan pesan moral dalam satu ungkapan singkat. Di tengah arus globalisasi, tradisi ini masih hidup dan digunakan dalam berbagai kesempatan, baik formal maupun nonformal. Ia tidak hanya menjaga kearifan lokal, tetapi juga menjadi jembatan antara generasi, mengingatkan bahwa tawa bisa menjadi sastra yang sarat makna.